Seminggu Ini saya lagi ikut pelatihan untuk petugas lapangan. Jadinya ya urusan nulis dan ngdrama korea jadi terbengkalai. Hiks.

Tapi saya nggak sedih juga sih. Ngumpul sama teman-teman berasa kembali lagi jadi anak SMA yang tinggal di asrama. Main kartu UNO, nge grill, sampai makan malam yang kedua kali selalu disempatkan di jam-jam malam yang nggak terpakai sama materi. Sesaat saya lupa kalau udah jadi emak-emak.


Materi Penyuluhan dan Pentingnya Public Speaking


public speaking

Bicara adalah salah satu komunikasi yang paling banyak dipakai manusia. Namun, ternyata setelah dapat materi publik speaking dari widyaiswara, komunikasi justru paling banyak terjadi lewat gestur, mimik muka, dan terakhir lewat kata. 


Makanya, kalau ada cewek ngambek tapi ngaku nggak ngambek, cowo cowo mungkin cuma ketawa dalam hati. Sama aja kalau cowok udah ketahuan selingkuh lewat tindak-tanduk yang serba keki, cewe mungkin cuman ketawa dalam hati sambil menyiapkan rencana terpendam. Huhuhu.


Itulah kekuatan gesture.


Saya juga merasakan sih yang namanya bahasa tubuh emang susah untuk dimanipulasi kecuali sudah pro. Berbicara di depan publik emang nggak mudah. Bukan berarti susah banget juga sih. Yang namanya gugup, gagap, dan grogi sudah pasti jadi teman akrab kalau jam terbang masih rendah.


Padahal, komunikasi publik memerlukan banget yang namanya kepercayaan diri yang tinggi. Ini dia yang emang perlu dilatih sejak dini.


Teknik Public Speaking


public speaking

Di momen pembuka acara, biasanya pembicara melakukan sesuatu yang dinamakan penyamaan frekuensi supaya audiens memperhatikan konteks acara. Di sini, biasanya pembicara akan menanyakan umur, asal daerah, serta obrolan singkat yang mungkin akan nyambung sama materi yang akan disampaikan.


Pernah juga sesekali saya melihat pembicara yang membuat yel-yel supaya audience jadi semangat dan bebas ngantuk. Untuk yang satu ini sih saya cukup skeptis. Rasanya nggak semua pembicara bisa menggunakan yel-yel untuk membangkitkan semangat audience.


Selama pelatihan aja, hanya satu widyaiswara yang bisa menaikkan atmosfer pembelajaran, yakni Pak Yadi yang jadi pembicara dari Jatisari. Bapak ini spesialis hama terutama tikus.  Tiap mau mulai materi, Pak Yadi selalu mengajak audience untuk berdiri untuk bernyanyi yel-yel POPT. Kalau nggak lagu, ya yel-yel aja sih.


Namun, ketika cara yang sama dipraktikkan oleh widyaiswara yang berbeda, efeknya nggak sebesar Pak Yadi. Ngeri memang!


Aura belio yang emang berapi-api emang nular banget sih. KIta yang klemar-klemer cukup terpengaruh lah sama semangat belio yang sangat bersemangat. Kok bisa punya semangat sebesar itu sih, padahal kan ini kerja?


Selain belio, ada juga pemateri yang menurut saya jago buat menaikkan atmosfer pembelajaran jadi lebih semangat. Belio spesialis jokes dewasa yang tentu aja cuman belio yang bisa ngebuat materi hama dan penyakit tanaman pisang di tengah hari jadi ramai kayak pasar. Salut lah untuk horang-horang seperti ini.


Teknik Ngeles Ketika Dapat Pertanyaan Susah


public speaking

Pasti ada aja momen ketika pembicara mendapatkan pertanyaan yang cukup sulit dari petani. Di momen seperti ini penting bagi pembicara untuk nggak jawab dengan kalimat, “Maaf, saya nggak tahu, Pak.”


Daripada ngaku nggak tahu, lebih baik pembicara ngeles dengan bertanya kembali kepada audience. Cara seperti ini juga bisa banget ;ah diaplikasikan kalau lagi berantem sama pasangan. 


Jadi kamu maunya apa? Putus aja?


(kan nggak mungkin kalau jawab iya secara eksplisit, jadi mending tanya balik)

Kalau kamu gimana?


Yah, begitulah catatan singkat dari saya tentang komunikasi publik yang diajarkan sama bu Ningsih selama pelatihan. Semoga bermanfaat.


Baca juga: Pesona Buku Digital yang Perlu Kamu Tahu!