Malam ini aku sedang menikmati anime di Disney Hotstar yang judulnya Haikyuu. Buat yang belum tau Haikyuu, anime ini adalah serial mengangkat tema olahraga voli. Buat yang sudah hapal sama anime tema olahraga pasti paham lah ya kalau anime ini akan jadi ajang pamer si tokoh utama meraih mimpi dengan jatuh bangun yang amat keras.

haikyuu

Haikyuu ya juga sama. Tokoh utama terobsesi dengan olahraga voli sehingga berjuang keras sendirian tanpa kenal lelah sampai ikut klub voli wanita dan ibu-ibu di desanya. Kalau lihat usaha-usaha super keras begini rasanya aku jadi ikut terbakar dan langsung pengen nulis. Menulis apapun, yang penting dan tidak penting. Aku ingin menulis semuanya.  


Passion, Pentingkah?


Entah ya, aku juga tidak bisa menjawab pertanyaan yang jawabannya sangat subjektif seperti ini. Kalau sudah mengingat kebutuhan keluarga, seperti uang susu formula dan kebutuhan makan nasi, rasanya passion jadi gak penting, hanya sebuah kemewahan yang membuat manusia jadi bisa terus merasa hidup. Bahkan, mengetahui passion hidup aja jadi sebuah kemewahan. 


Banyak orang yang bisa hidup dengan baik tanpa punya passion. Ya, hidup saja, mengalir seperti air, tanpa keinginan. Rasanya, keinginan itulah yang menjadikan manusia jadi berbeda dengan makhluk lainnya. 


Kita membangun mimpi dan fantasi. Kita membangun keberadaban dan mewariskan cerita dari sejak zaman dahulu kala, baik dari verbal dan visual. Kini, kata terucap dalam bahasa dan manusia menjadi sebuah bangsa yang mendominasi bumi pertiwi. Apakah ini hal yang baik? Entah juga. Pada dasarnya akan selalu ada akhir dari sebuah era. Siap-siap saja. 


Manusia sudah meninggalkan gaya hidup berburu sejak begitu lama. dengan berkembangnya bahasa serta sastra lewat tulisan, kini cerita jadi komponen yang penting untuk manusia. Cerita-cerita fiksi di buku serta puisi di laman internet, jadi sebuah penyembuh dalam kejenuhan mencari kebutuhan hidup. Kita tak lagi mengisi waktu lewat anekdot dan cerita di tengah api unggun, melainkan di sebuah kertas yang kering kerontang dan lewat kerasnya layar telepon genggam. Kini, cerita jadi media untuk hiburan, refleksi, dan pencarian diri. 


Sastra, Pentingkah?


Aku pernah sangat suka pada suatu penulis pada umur tertentu. Dengan bertambahnya usia, rasanya preferensi penulis yang aku suka pun berubah. Aku tak lagi suka pada penulis yang sama, sama seperti aku yang sudah berubah, cerita yang aku suka juga sudah berubah. Wajar. 


Pelan-pelan aku mulai menjajaki penulis-penulis sejarah dan penulis-penulis buku jenis lainnya. Di usia ini, aku rasanya baru sadar bahwa manusia-manusia yang suka mengarang kisah di sebuah buku mungkin adalah sosok yang misterius. Mereka menyimpan misi lewat tokoh dan takdir. 


Ada yang ingin menyimpan jejak sejarah menyedihkan agar manusia tak lupa. Ada yang ingin menyimpan kemanusiaan agar manusia tetap jadi manusia. Ada yang menyimpan gagasan berani tentang keberadaan atau ketiadaan pencipta. Ada juga yang ingin menyimpan masa lalu dan menguburnya dalam-dalam. Ada yang ingin menyimpan harapan keluarganya. Ada juga yang seperti kita, menuliskan rindu satu sama lain. Eciieee...


Jadi, apakah sastra penting bagi kebutuhan manusia? Jawabannya lagi-lagi sangat subjektif. Tapi, buat aku tentu sangat penting. Sastra adalah sebuah media penyimpanan masa lalu yang baik dan buruk, media penyimpanan prediksi masa depan, dan segalanya tentang kisah manusia.  


Kamu, pentingkah?


Wkwk, kadang aku suka jijik sendiri kalau menulis judul yang seperti ini. Iya… kamu. Meromantisasi cinta manusia memang hal yang menyenangkan karena kita semua merasakannya. Begitu umur sudah menua rasanya konyol juga melihat masa lalu diri sendiri yang kadang membuat keputusan kacau karena hormon cinta.


Tapi ya begitulah. Semua kesalahan jadi segmen penting untuk diingat dan ditertawakan. Sesi menulis kacau malam ini sudah selesai. Aku mau nonton Haikyuu episode 2.


Baca juga: Artikel Uda Ivan Lanin, Copywriting Kuning Keren ala Iphone