Kirara meletakkan pena dalam genggaman tangannya di atas kertas putih polos. Ia memijat pelipisnya yang selalu penat, tak pernah sembuh bertahun-tahun. Ia memandangi langit-langit kamarnya yang kumuh dengan tatapan kosong, ’Kapan semua ini berakhir?’ tanyanya dalam hati.

kirara first case
sumber: freepik

Setelah memungut ikat rambut ungu di bawah kasurnya, ia beranjak menuju ke luar kamar kostnya. Di luar, langit sedang cerah bercahaya, tidak peduli dan tidak bertoleransi sama sekali dengan kesuntukan Kirara hari ini. Setidaknya, sudah dua tahun sejak karyanya meledak, kini Kirara hanyalah om-om miskin tak tak lagi punya uang untuk sekedar membeli sebungkus rokok baru di minimarket.

Uangnya yang tersisa hanya bisa membiayai hidupnya hingga akhir bulan. Kirara masuk ke dalam minimarket dan membeli kopi kaleng dengan uang receh. Ia duduk di depan minimarket, di kursi besi dingin, dan meminum kopi kalengnya yang dingin. Kirara menyalakan sebatang rokok terakhir yang ia miliki.


Dengan pelan, KIrara menghisap sebatang rokok terakhir itu dengan hikmat. Ia menghitung kendaraan yang melintas, ia menghitung motor yang parkir dan pergi, ia menghitung anak-anak yang merengek minta dibelikan cokelat, ia melakukan segalanya kecuali bekerja. Kirara sudah mentok, Ia tak tahu lagi mau menulis apa. Editornya di kantor penerbit sudah menagih lagi karya-karya besarnya yang lain, tapi tak ada satupun yang bisa ia tulis. Kirara tidak yakin, ia takut, ia tak lagi punya kepercayaan diri bahwa idenya kali ini akan bisa mengalahkan atau minimal sejajar dengan novelnya yang meledak dulu.


Dengan sabar, editornya menjelaskan sambil memberikan motivasi pada Kirara bahwa wajar jika penulis yang sudah menelurkan karya hebat pasti akan mengalami hal seperti ini pada karya selanjutnya. Pasti akan ada ketakutan jika karya yang baru tidak sesukses karya sebelumnya. Namun, tetap saja Kirara tidak memiliki kepercayaan diri itu. 


Kirara terus menghisap rokoknya sampai habis. Ia teringat dengan buku diari adiknya yang ia simpan di dalam kamar kostnya. ‘Pasti ada buku diari yang lain’ batin Kirara, ‘... aku harus pulang ke rumah.’


Kirara berjalan menuju rumahnya sambil mengingat-ingat posisi rak buku adiknya. Rak buku itu berada di dalam kamarnya, tempat buku dan novelnya bertumpuk jadi satu. Sejak lumpuh, adiknya jadi kutu buku setengah mati. Ia tak lagi berhasrat untuk kembali berjalan, tak ingin terapi, ia hanya menerimanya saja. Kepribadian Hikari, adik Kirara pun berubah 180 derajat. Ia tak lagi menikmati kegiatan bersosialisasi. Teman-teman klub futsal yang dulu sering datang menjenguk pun sudah menyerah untuk menyemangati Hikari untuk kembali bersekolah. Mereka membiarkan Hikari mengurung diri dan menikmati kesendiriannya. 


Ibu pun sudah menyerah untuk membujuk HIkari keluar rumah. Ia membiarkan Hikari membaca, menulis, dan menonton sepanjang hari. Hikari sama sekali tidak pernah keluar rumah, ia mengurung diri bersama hobi barunya. Sebagai kembaran Hikari, tentu Kirara sudah berusaha untuk menariknya kembali ke lingkungan masyarakat, tapi tak berhasil. Kirara sendiri tertawa melihat dirinya membujuk Hikari untuk keluar rumah, karena dirinya pun enggan untuk melakukannya sendiri. 


Hikari terlahir dengan pribadi yang terbalik dari Kirara. Kalau Hikari versi lama adalah sosok yang suka berteman, suka kegiatan olahraga, suka keluar rumah, Kirara adalah sosok yang suka langsung pulang ke rumah setelah sekolah. Kirara lah sosok kutu buku pertama dalam rumah. Setelah lumpuh, praktis ibu mereka kini memiliki dua anak kutu buku dalam rumah. Hikari dan KIrara kini menikmati membaca dan menonton anime bersama setiap hari.


(Bersambung, penulisnya mau cuci piring dulu)


Baca juga: 2026, Tahun Tanpa Resolusi