Belakangan ini, saya lagi menikmati banyak anime seperti Jujutsu Kaisen season 3 dan Frieren season 2 yang sekarang sama-sama tayang on going di Netflix. Kalau untuk anime Frieren season 2 masih sama seperti season 1, pacenya tetap santai dengan cobaan yang tidak begitu berarti.
Mungkin di season 2 ini, Frieren sedikit berkembang, dia mulai memahami koneksi emosi manusia. Mage sepuh yang sudah berumur lebih dari 1000 tahun ini mulai memahami kalau Fern sedang ngambek karena sesuatu dan mau menemani Stark untuk bercerita hal bodoh.
Kalau Frieren selalu bergerak dengan kecepatan rendah, Jujustsu Kaisen justru sedang berada di pace panasnya. Semua penyihir Jujutsu sedang mengikuti Culling Game, semacam ajang saling bunuh lah.
Episode di anime Jujutsu hampir rata-rata pecah karena memang tiap episode menyajikan cerita yang yahud banget. Misalnya saja seperti cerita episode ketika Maki Zenin membantai nyawa seluruh klannya dalam satu sore. Asli sih, itu seru banget.
Kemampuan Maki yang kini sudah menyamai Toji membuat kisah pembantaian ini jadi sebuah meme terkenal di Instagram. Naoya, sepupu Maki yang menyebalkan menjadi koit hanya dengan satu pukulan. Mantap. Tapi, saya memang bukan mau membahas betapa kerennya Jujutsu Kaisen season 3, tapi mau membahas Yuji Itadori, yakni tokoh utamanya yang akan hidup abadi, sedih, dan sendirian dalam kisah manganya.
Frieren Season 2: Beyond Journey's End Season 2
Untuk memahami tulisan ini, mungkin saya akan menuliskan konteks kedua tokoh terlebih dahulu. Frieren adalah tokoh utama anime Frieren, seorang elf penyihir yang merupakan anggota dari kelompok Himmel si Hero yang berhasil membunuh Demon King. Tapi, anime ini bukan bercerita tentang kisah Frieren dan Himmel yang berusaha membunuh raja iblis, tapi tentang masa setelah Demon King runtuh. Yap, bisa dibayangkan betapa santai dan damainya anime ini.
Inti dari cerita Frieren adalah perkembangan karakter utamanya yang dulu apatis dan gak punya emosi menjadi sosok yang lebih mirip manusia. Yap, karena sudah hidup selama ribuan tahun, Frieren terbiasa kehilangan, terbiasa melihat manusia yang ia kenal mati duluan. Sifat ketidakpeduliannya menjadi sebuah fakta yang bisa diterima penonton. Berkat Himmel si hero, Frieren mulai memiliki kehangatan kembali.
Perjalanannya bersama kelompok baru, yakni Fern dan Stark kebanyak berisi banyolan yang santai. Lalu, ketika mereka bertemu monster mengerikan, anime ini akan menampilkan kilas balik petualangan Frieren dengan Himmel di masa lalu. Seperti itu pola anime ini.
Jujutsu Kaisen Season 3: Culling Game Arc
![]() |
| sumber: google |
Jujutsu Kaisen memang sedang on going tapi manganya sudah ending. Sudah beredar di internet episode ketika Yuji Itadori, sebagai mc Jujutsu Kaisen, sedang membantai musuh dengan sekali hap dengan jurus yang luar biasa. Akan tetapi, terlihat bahwa Yuju tidak lagi memiliki sifat yang sama seperti dulu. Ia tidak lagi sosok yang ceria, peduli, dan hangat pada sesamanya. Ia kehilangan teman-temannya, hidup soliter, dan sepertinya kecanduan pachinko. Singkatnya, Yuji berubah total karena keabadian. Bagaimana, keabadian bisa membuat manusia jadi sosok yang berbeda?
Kasus Keabadian Yuji dan Frieren
![]() |
| sumber: google |
Menurut saya, Yuji Itadori gak bisa dibandingkan dengan Frieren. Secara dari umur saja, Yuji masih berumur 80 tahunan meski wajahnya selamanya remaja (enak banget…). Kalau Frieren kan sudah berumur mbah-mbah banget, sekitar 1000an lebih. Yuji belum sampai di masa akan menemukan kembali spark-spark yang akan membuatnya kembali hidup. Dia masih berada di tahap seperti Frieren ketika belum ketemu dengan Himmel, di level apatis dan gak punya emosi.
Nampaknya, keabadian akan menumpulkan hasrat kehidupan itu sendiri. Mungkin, justru kematian yang membuat kita manusia jadi semangat menjalani hidup, agak kontradiksi ya. Yuji mungkin seharusnya menemukan teman hidup seperti Himmelnya Frieren, agar gak kesepian, agar punya kegiatan dan gak main judi pachinko.
Kegiatan yang bermakna jadi kunci agar gak bosan dalam keabadian. Lihat aja, Edward Cullen dan Bella. Mereka kan sama-sama vampire ya, tapi mereka gak akan bosan karena punya anak dan sama-sama saling memiliki. Pada intinya, pengarang Jujutsu Kaisen semoga segera menciptakan teman untuk Yuji lah. Kasihan, depresi tuh anak kayanya.
Baca juga: Gado-Gado Madura (cerpen)







0 Comments
Post a Comment