Judul artikel di atas saya comot dari judul buku dari penulis yang aku suka, yakni Prima Sulistia. Beliau adalah penulis perempuan yang awalnya aku kira adalah laki-laki karena candaanya cukup terasa maskulin (baca: banyak jokes ala bapak-bapak yang absurd tapi ngena) di pikiranku. Salah satu artikelnya yang lucu banget adalah ketika membahas artikel di Detik yang jadi website nomor 1 di Indonesia tapi perlu diklik 5 kali hanya untuk membaca 1 artikel penuh. Asli, artikel ini lucu banget sih, artikel itu sendiri ada di website Mojok, silakan dibaca sendiri di sana.

senang
Gara-gara ini pula, aku jadi termotivasi untuk bulan ini mengikuti pelatihan menulis lucu. Iyak, benar, pelatihan menulis lucu, bukan menulis bagus. Sungguh ide yang absurd dari narasumbernya tapi berhasil banget menggaet hati, huahahaha. Nanti kalau aku sudah ngikutin pelatihannya akhir minggu ini akan aku share di blog ini apa aja isinya. 

Bicara soal lucu, jujur menemukan buku yang lucu bisa dibilang kaya mencari jodoh, super sulit tapi kalau sudah ketemu biasanya cocoknya sampai ke hati. Aku lumayan cocok sama jokes-jokesnya Andrea Hirata. Em, gimana ya, humornya beliau itu berasa lucu sekaligus nyelekit. Jadi, pembaca tertawa bukan hanya karena lucu tapi juga karena menyadari kegetirannya. Misalnya saja tentang pertanyaan sarkasme di novel Orang-Orang Biasa yang bagian “Di mana semua uang di bumi ini berada?”.


Bagian narasi yang membahas Buku Besar Peminum Kopi di novel Cinta Dalam Gelas juga berhasil membuat aku ngakak sendirian. Misalnya pembahasan tentang kalau peminum kopi tanpa gula adalah seorang player sejati, di mana mereka punya kehidupan keras, ditinggal istri, dll (detilnya aku sudah lupa, pokoknya lucu, lah). Yah, jokesnya Andrea emang cocok banget untuk ditulis, tapi kayanya ga cocok untuk dijadikan jokes secara langsung. Makanya, seni untuk ngelucu secara tulisan dan lisan tentunya berbeda. 


Well, kembali ke judul yakni tentang bahagia melakukan hal sia-sia. Aku sendiri menyadari bahwa menikmati hobi yang tidak memberikan timbal balik berupa uang adalah sebuah kemewahan, misalnya aku bisa mengeluarkan uang untuk sebuah pelatihan menulis lucu. 


Aku tak bisa melakukan ini dulu, tapi berkat rencana Tuhan, kini aku bisa melakukannya dengan leluasa. Maka, aku akan menikmati hobi ini dengan sungguh-sungguh. Aku akan melampiaskan hasratku yang ada di dalam jiwa, batu-batu sandaran di dalam kepala, sampai sampah-sampah di ujung jiwa menjadi sebuah kesia-siaan bernama tulisan. 


Btw, ada sebuah kisah kesia-siaan dari Sapardi Djoko Damono yang aku ingat dalam Youtube. Dalam wawancara itu, pertanyaan ke Bapak Sapardi adalah, apakah beliau memang suka menulis tentang hujan. Konteksnya adalah karena puisi beliau yang fenomenal adalah Hujan Bulan Juni.


Dengan suara tuanya yang santai dan bijaksana, jawaban belia adalah, “Sebenarnya saya menulis tentang semua musim, cuman yang kebetulan terkenal adalah tentang musim hujan.”


Can you imagine, bahkan sekelas penulis seperti beliau saja mengalami yang namanya menulis dalam kesia-siaan. Tulisan yang mengendap dan tak dikenal, tulisan yang membusuk karena terlalu lama dalam situasi lembap, tulisan-tulisan yang menggantung karena tak dilanjutkan. Rasanya, semua hal ini adalah keniscayaan dan sebuah proses dalam menulis itu sendiri. 


Mimpiku dalam menulis tidaklah muluk, selain menulis itu sendiri. Aku ingin menari dan menikmati momenku, dalam sendiri, dalam keramaian, di Samarinda, di ujung batas desa, bersama anak, bersama hujan, dalam rindang, dalam angin, lewat klotok, lewat usia, sedang sehat, sedang sakit, dalam iman, dalam amin. Selamat menikmati Ramadhan dan menulis dalam kesia-siaan.


Baca juga: Ide Kegiatan yang Bisa Dilakukan Ketika Ayah dapat Cuti Melahirkan