Bicara soal terbang naik pesawat untuk pertama kalinya, saya punya beberapa pengalaman yang bisa dibilang cukup menarik walaupun bisa dibilang sial. 

Sebagaimana mahasiswa baru yang mesti terbang dulu sebelum sampai di Pulau Jawa, saya mesti memberanikan diri untuk naik pesawat sendiri pertama kali. Ada perasaan kagok, canggung, dan takut waktu itu. Tapi, ternyata semuanya bisa dijalani dengan mudah kok dengan mengikuti beberapa tips berikut ini.


Cerita Drama Pengalaman Naik Pesawat Beserta Tips Safetynya


Jangan Takut Bertanya


naik pesawat

Waktu itu, saya yang masih unyu, lugu, dan polos mesti ke bandara untuk naik pesawat sendiri demi menuntut ilmu di Pulau Jawa. Saya yang waktu itu berumur 17 tahun tentu galau dan canggung berada di tempat yang begitu ramai. 


Niatan awal tentu mau langsung check in barang bagasi, tapi nggak tahu di mana. Jadinya, saya ngikutin orang di depan dan langsung nyasar. Ternyata orang di depan pergi ke WC, bukannya ke tempat yang mau saya tuju. 


Itu zonk pertama saya karena nggak nanya sama satpam dalam malah ngikutan orang secara random. So, tips pertama adalah Jangan Takut Nanya, dan pastikan nanya sama petugas yang berwenang, misal satpam.


Pisahkan Barang yang Penting


naik pesawat

Zonk kedua saya terjadi ketika saya mau pulang dari bandara Soetta ke rumah. Karena jam penerbangan masih lama saya memutuskan untuk nongkrong di luar sambil makan bekal.


Nah, bencana kedua terjadi saat saya mau buang sampah makanan. Karena sibuk makan sambil pegang tiket, saat mau buang sampah saya buang tiket pesawatnya lalu menyimpan sampah makanannya di dalam ransel. Sungguh sangat oon, hiks.


Ketika jam check in sudah dekat saya mau masuk ke dalam bandara. Saat merogoh isi tas ransel, saya malah mendapati sampah makanan, bukannya tiket pesawat. Saya panik dong, masa enggak?


Saya langsung ke tempat duduk yang sedari pagi saya tempati. Kosong, tiketnya nggak ada. Semua orang yang bersimpati ikut membantu mencarikan tiket pesawat di dekat tempat duduk itu. Ricuh lah.


Kok nggak pakai e-tiket aja yang biasanya dikirim lewat email? Di tahun 2010-an, habit menunjukkan tiket elektronik belum seperti sekarang. Jadi, tidak ada tiket pesawat versi digital dan satu-satunya bukti saya sudah bayar penerbangan itu ya lewat lembar tiket yang sudah hilang itu.


Waktu itu saya sampai membuka koper saking putus asanya mencari tiket yang sudah hilang. Sambil nyari di dalam koper saya sudah membayangkan betapa keras tawa teman-teman kosan kalau sampai saya balik ke Bogor dan nggak jadi pulang. 


Entah masih rezeki, saya jadi tiba-tiba ngide aja pengen cari di bak sampah karena ingat sama bungkus sampah yang tiba-tiba ada di dalam ransel. Ternyata, tiketnya masih ada di dalam bak sampah. Alhamdulillah, saya dan semua orang yang membantu cari tiket jadi lega.


Oleh karena itu, saya jadi selalu pakai tas kecil kalau lagi bepergian. Isinya ya tentu saja semua hal penting seperti dompet, hp, kunci, tiket pesawat, dan hatimu, wkwk. 


Packing sebelum Berencana Pergi


naik pesawat

Namanya juga anak muda ya, ada aja momen mager banget walaupun sudah tahu besok mau bepergian. Nah, yang begini emang jangan banget dilakukan karena jelas akan mengacaukan rencana perjalanan.


Akibatnya tentu sudah bisa diprediksi, kan? Bangun tidur bukannya enjoy life lalu mandi dan berangkat, malahan buru-buru packing, nggak mandi, lalu berangkat dengan kondisi kucel. 


Menyelesaikan Urusan Sebelum Bepergian


naik pesawat


Kejadian bodoh lainnya yang pernah saya lakukan adalah belum selesai mengerjakan tugas kuliah tapi jadwal tiket keberangkatan pesawat sudah di tangan. Tugasnya pun bukan tugas yang dikerjakan dengan nulis tapi tugas mengumpulkan serangga jenis tertentu dengan ordo dan famili yang sudah ditentukan. 


Sudah pasti, saya pagi-pagi sudah kalut dan langsung ke kebun percobaan untuk nyari serangga. Di sini saya merasa cukup bodoh. Bukannya riweuh sama persiapan pulang kampung, saya malahan sibuk nyari serangga sampai disengat lebah.


So, intinya sih jangan melalaikan tugas apalagi sampai beli tiket pesawat sebelum tahu jadwal pasti kapan bisa pulang.


Jangan Bawa Novel selama Perjalanan


naik pesawat

Hal bodoh lain yang pernah saya lakukan selama bepergian sendiri adalah menangis saat baca novel, wkwkwk.


Saya nggak tahu sih gimana jeleknya muka waktu nangis saat baca novel, tapi yang pasti ada satu penumpang lansia yang duduk di samping saya jadi membuka obrolan karena hal memalukan ini. 


Ia jadi cerita anaknya yang juga suka novel. Waktu itu pengen banget nanya,”Anaknya ganteng kaya Nicholas Saputra nggak pak?” tapi nggak berani keucap. Wkwk, sayang sekali. 


Udah sih, 5 tips aja untuk bisa terbang aman dengan naik pesawat. Sebenarnya ada satu hal identik yang sangat bandara banget yang belum pernah saya rasakan yakni aksi kejar-kejaran di bandara sama pasangan sebelum pisah.


Pisah sama pasanganya sih pernah, tapi waktu ke bandara saya nggak diantar apalagi sampai disusul untuk dipesani kata cinta, wkwk. Hal-hal realistis emang nggak asik. Udah ah, saya mau lanjut nonton drama korea aja.