Hikari sampai di rumah. Ia mengetuk pintu sekali, dua kali, tiga kali. Tak ada jawaban. Ia menunggu dan berpikir, ibunya sedang melakukan apa di jam 10 pagi pada hari Selasa. Ah, mungkin sedang belanja ke pasar dan belum pulang. Kirara duduk di depan pintu rumah mereka. Ia memeriksa tanaman bunga matahari yang kini mulai mengering. Ibunya suka bunga dan rajin menanamnya dalam pot-pot cantik. Setelah kematian Hikari, ibunya sepertinya sudah tidak serajin dulu. Tak ada lagi barisan pot bunga matahari, jengger ayam, bunga kertas, bunga kenikir, dan bunga mawar putih. Mungkin hanya ada satu atau dua pot bunga seperti bunga matahari yang kini menjadi pot bunga terakhir yang ibunya rawat.
Kematian Hikari meninggalkan banyak perubahan pada kondisi rumah. Ibunya yang rajin bukan kepalang, kini seperti remaja pemalas yang suka rebahan. Tenaganya seolah tersedot bersama Hikari yang kini sudah dikubur dalam tanah. Matanya lelah setiap hari padahal ia tidak melakukan apa-apa.
Ibu yang matanya selalu lelah itu datang dan hanya menoleh sebentar ke arah Kirara. Ia hanya menyapanya singkat, “Oh, kau datang?”
Kirara mengangguk, “Ya, aku mau mengambil barang.”
Ibu membuka pintu dan meletakkan kantung belanjaan yang ia bawa di dapur. Kirara tidak tertarik dan langsung menuju kamar Hikari di ruang belakang.
Ruangan itu persis seperti dua tahun yang lalu, bersih, rapi, seolah pemiliknya masih ada di sini untuk menonton televisi dan membaca buku. Kirara cukup merasakan nostalgia yang pekat di dalam kamar itu ketika melihat televisi tabung masih terpajang di sana. Hikari suka sekali dengan anime olahraga, Blue Lock, Haikyuu, dan masih banyak lagi. Kirara merasa bahwa anime Blue Lock terlalu berlebihan dan tidak cukup menghibur, ia hanya menemaninya saja menonton anime itu.
Ibunya menengok dari balik pintu, “Sedang mencari apa?”
Kirara terkejut, “Gak ada. Hanya lihat-lihat aja.”
Ibunya kembali bertanya, “Buku diari Hikari sudah Ibu bakar semua.” Setelah berkata seperti itu, ibu pergi ke dapur.
Kirara terkejut setengah mati. Setengahnya karena buku diari Kirara yang sudah terbakar, setengahnya lagi karena bagaimana ibu bisa tahu tujuan dirinya untuk kembali ke rumah.
Kirara mengikuti ibunya ke dapur dengan tatapan bingung. Ibunya mengambil gelas berisi air putih dan meminumnya seteguk. “Aku sudah baca bukumu yang itu, yang membuatmu kaya dalam sekejap. Bisa dibilang ibu sama sekali tidak suka dengan isinya.”
Kirara merasakan detak jantungnya meningkat tajam. Ibunya pasti paham novel itu tentang apa, tentang siapa, dan dari mana dia mengambil kisahnya.
“Ibu tak suka kamu menjual jiwa adikmu yang tersisa menjadi cerita palsu tentang harapan.”
Kirara kecewa berat. Pupus sudah harapan dirinya untuk menelurkan karya baru. Ia ingin marah tapi tak ada alasan yang tepat. Ia hanya berkata, “Kenapa ibu kecewa? Aku hanya membuat kisah Hikari lebih dikenal orang.”
“Tapi, Hikari gak ada si sini. Dia gak bertahan, dia gak melanjutkan hidup seperti dalam bukumu, dia gak meniti karir, dia gak bernapas, dia mati gantung diri!” Ibu setengah berteriak, saking kesalnya.
(bersambung lagi, penulisnya lagi lembur, banyak kerjaan)
Baca jilid 1: Kirara's First Case





0 Comments
Post a Comment