Belakangan ini saya lagi ngerampungin buku yang berjudul Human Kind. Sesuai judul bukunya, penulisnya, Rutger Bregman, menuliskan beberapa cerita tentang kebaikan hati manusia yang nampaknya mulai dilupakan oleh manusia itu sendiri. 


Meskipun, penulis terkesan kelewat optimistis soal kemanusiaan yang murni ada di hati manusia, saya nampaknya agak percaya bahwa orang baik tentu masih lebih banyak ketimbang yang enggak.


Sinopsis Buku Human Kind

buku human kind

Buku ini saya baca setelah merampungkan buku Animal Farm by George Orwell. You know lah ya isi Animal Farm itu kayak apa. Secara implisit manusia digambarkan sebagai sosok yang tamak, mirip sama tokoh utamanya yakni seekor babi yang gemar sekali sewenang-wenang kalau diberi kekuasaan. Setelah membaca buku ini, saya jadi ngeri dan takut sama diri sendiri kalau nanti tiba-tiba harus jadi presiden (halu).


Setelah membaca buku yang cenderung pesimis sama hakekat manusia, saya langsung dapat buku penawarnya yang berjudul Human Kind. Dari judulnya aja kelihatan kan kalau penulisnya bakalan memaparkan bukti-bukti otentik bahwa manusia itu cenderung memiliki nurani dan kebaikan hati yang melimpah. 


Akan tetapi, isi buku ini jauh melampau itu semua. Dari awal, pembaca akan disodorkan fakta psikologis tentang efek plasebo dan nosebo. Kecenderungan pemikiran kita bisa menghasilkan hasil yang serupa di masa depan. 


Contoh mudahnya adalah kalau kita berpikiran atasan di tempat kerja sulit untuk diajak kerjasama maka itulah yang terjadi. Kalau kita berpikir bahwa manusia itu jahat, maka jenis manusia seperti itulah yang kita temui seharian. Dan berlaku juga untuk sebaliknya. 


Karena berita di media rata-rata hanya menampilkan sisi terburuk manusia, maka rata-rata orang akan berpikiran bahwa sebenarnya memang itulah yang terjadi, bahwa manusia sangat egosentris dan tamak.


Buku Human Kind: Kisah Homo sapiens vs Neanderthal

buku human kind

Sudah lama sekali kisah punahnya Neanderthal jadi sebuah perbincangan yang seru di kalangan ilmuwan. Bagaimana bisa ras manusia purba seperti Neanderthal yang memiliki tubuh dan volume otak lebih prima bisa kalah saing sama homo sapien?


Sebagian pendapat mengatakan bahwa kepunahan neanderthal tidak lain dan tidak bukan ya disebabkan pemusnahan yang dilakukan homo sapien. Sadis, kan?


Akan tetapi, penulis buku nampaknya berpendapat lain. Menurut paparan fakta yang ia berikan di dalam buku ini, kepunahan Neanderthal kemungkinan karena komunitas ini sangat individual dan tidak memiliki kecerdasan kelompok layaknya homo sapiens. 


So, kamu percaya yang mana?


Buku Human Kind: Ego Manusia 

buku human kind

Salah satu yang paparan fakta yang membekas dalam ingatan saya adalah tentang kisah novel yang dianggap fakta oleh banyak orang. 


Kisah ini cukup populer, meski saya belum pernah baca juga sih novelnya, hihi. Cerita singkatnya ada sekumpulan anak-anak yang tidak sengaja terdampar di sebuah pulau. Sekumpulan anak-anak ini awalnya bisa hidup berdampingan dengan mudah. Masing-masing sub kelompok bisa mengerjakan tugasnya dengan baik, sesuai dengan kesepakatan.


Seiring waktu berjalan, anak-anak ini mulai menunjukkan ketidakharmonisan dengan perkelahian-perkelahian di antara mereka. Yang kuat menindas yang lemah, dan yang lemah mulai menindas sekelompok orang yang paling lemah. Begitu seterusnya sampai mereka habis sendiri.


Si penulis, Rutger Bregman, menunjukkan ketidaksetujuannya tentang kisah ini. Bagaimanapun, kisah ini seolah menunjukkan ego di dalam diri manusia bisa mempengaruhinya untuk tidak bisa mengerjakan pekerjaan secara berkelompok. 


Karenanya, ia mulai melakukan riset tentang sebuah peristiwa fakta yang mungkin sedikit mirip dengan fiksi tersebut: anak-anak terdampar di sebuah pulau.  


Ternyata, peristiwa serupa memang pernah terjadi. Anak-anak tersebut diam-diam melakukan petualangan kecil dengan ‘meminjam’ kapal milik nelayan setempat. Mereka terdampar karena badai dan terpaksa harus berdiam di sebuah pulau tanpa nama beberapa saat. 


Fakta ini kemudian digali kebenarannya oleh penulis sampai mewawancarai orang aslinya. Ia diwawancarai dan ditanya tentang kisah selama terdampar di pulau tersebut. Korban terdampar ini menceritakan tentang betapa sulitnya untuk beradaptasi pada awalnya. 


Melakukan kegiatan seperti memasak dan membuat tempat tinggal tentu menjadi kegiatan yang sulit dilakukan untuk anak remaja seperti mereka. Ketika sudah mulai terbiasa dengan rutinitas seperti itu, gesekan antar sesama anggota kelompok memang kerap terjadi namun biasanya selalu bisa diatasi.


Dari paparan korban, bisa diambil kesimpulan bahwa anak-anak (termasuk remaja) bisa hidup secara berkelompok dengan baik. 


Kisah Kelam Sejarah Perang, Nazi, dan Pulau Paskah dari Sudut Pandang Buku Human Kind

buku human kind

Sejarah Nazi menjadi salah satu batu halangan paling besar untuk bisa membuktikan manusia adalah makhluk sosial yang bernurani. Kekejaman Nazi sudah jadi sejarah kelam, bahkan bagi bangsa Jerman sendiri (mungkin).


Di sini penulis menuliskan alasan mengapa tentara Nazi begitu gigih untuk terus melawan bahkan ketika mereka sudah kalah telak.


Alasannya bukan karena ideologis yang mereka junjung, melainkan karena rasa kesetiakawanan. Rutger Bregman dalam bukunya Human Kind percaya bahwa rasa setia kawan inilah yang menjadi motivasi terkuat mereka untuk terus berjuang sampai titik darah penghabisan. 


Lain soal Nazi, lain pula kisah tentang Pulau Paskah. 


Cerita tentang Pulau Paskah ini juga lumayan seru untuk dikulik. Sebagian orang percaya bahwa masyarakat Pulau Paskah mengalami kepunahan karena konflik berkepanjangan yang terjadi di antara penduduk mereka sendiri.


Hal inilah yang membuat penduduknya menjadi sangat minim, bahkan sampai sekarang. Sudah barang tentu, penulis Rutger Bregman tidak setuju dengan hal ini. Menurutnya….. untuk paparan Pulau Paskah, mending baca sendiri ya. Soalnya bab ini seru banget, sayang kalau di-spoiler semua di sini. wkwk.


Peradaban = Kiamat bagi Manusia

buku human kind

Setelah membaca buku Human Kind, ada fakta menarik tentang dampak buruk peradaban bagi umat manusia. Menurut buku ini, peradaban bercocok tanam dan gaya hidup menetap menimbulkan banyak sekali mudarat ketimbang manfaat bagi manusia. 


Gara-gara manusia mulai bercocok tanam, konflik di antara homo sapien sangat meningkat. Perebutan harta agraria, adanya strata dalam masyarakat, patriarki dalam rumah tangga, sampai jam kerja yang overdosis membuat manusia jadi melawan kodratnya sendiri untuk terus rebahan bisa hidup berdampingan. 


Tidak hanya di zaman feodal saja, strata manusia juga masih berlaku sampai sekarang meskipun gaung kesetaraan makin terdengar di mana-mana. Kalau zaman feodal, tuan tanah yang jadi level paling tinggi. Kalau sekarang ya mungkin selebgram, wkwk.


Saya sih setuju saja kalau peradaban dan gaya hidup bercocok tanam menjadi bumerang balik untuk umat manusia. Kamu setuju?


Kesan Pesan Setelah Baca Buku Human Kind


Jujur nih, saya pun belum merampungkan buku ini ketika nulis sinopsisnya. Kira-kira masih sisa sepertiga lagi lah, tinggal sedikit lagi. 


Saya sendiri merasa cukup lega dengan adanya kemungkinan bahwa manusia sebenarnya makhluk bernurani yang memiliki kecerdasan kelompok. Melihat berita yang belakangan ini sangat mengerikan, mulai dari pemerkosaan 13 anak dibawah umur, pembunuhan, dan lainnya tentu membuat mak emak kayak saya jadi ketar-ketir. 


Setelah membaca buku ini, pendapat saya soal manusia juga agak sedikit berubah. Mungkin memang manusia yang jahat banget kayak Dementor yang suka makan kebahagiaan orang lain itu nggak ada. Pada dasarnya manusia itu emang abu-abu. Yah, walaupun ada yang abu-abu terang dan abu-abu gelap. 


Semoga manusia baik akan senantiasa lestari sampai kiamat nanti. Selamat jadi orang baik, homo sapiens. So, kamu percaya sama buku Human Kind?


Seperti biasa, buku Human Kind saya baca di app Gramedia. Penulisnya Rutger Bregman, terbitan tahun 2020, dengan jumlah halaman 444.


Baca juga: Animal Farm, Novel Kompleks tentang Praktik Pemerintahan yang Sewenang-wenang