review novel midnight sun

Judul: Midnight Sun

Penulis: Stephenie Meyer

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: Desember 2020

Jumlah Halaman: 1016


Bagi penggemar novel cinta Twilight, Midnight Sun tentunya tidak boleh dilewatkan. Pasalnya, kisah cinta antara manusia dan vampire ini dibawakan dengan sudut pandang yang berbeda. 


Kalau di Twilight, tokoh “aku” adalah Bella, sehingga pembaca bisa tahu apa isi pikirannya dengan jelas, tetapi di Midnight Sun yang menjadi “aku” adalah Edward nya. Seru, kan?

Apa isi Novel Midnight Sun?

Meski memiliki kisah yang sama, ada beberapa cerita yang tentu saja tidak ditulis di buku Twilight. Misalnya asal usul keluarga Edward di jaman lampau. Lalu, ada juga cerita tentang pemikiran Edward yang begitu kalut dan kacau ketika mau memutuskan untuk memakan darah Bela atau tidak di pertemuan pertama mereka. Bagaimanapun, Bela adalah santapan yang menggiurkan untuk Edward. 


Seiring waktu berjalan, dan ketika Edward mulai jatuh cinta dengan perilaku Bela yang cukup humoris, tidak tertebak, dan unik. Ia mulai mendatangi kamar Bela setiap malam untuk menyiksa dirinya sendiri dengan menghirup aroma Bela yang menggiurkan. Ck, Edward memang cukup psiko.


Di sini dijelaskan dengan gamblang betapa darah Bela bisa membuat lehernya terasa terbakar. Gambaran ini sesuailah dengan deskripsi Edward bahwa bau darah Bela buat dirinya seperti heroin yang khusus dibuat untuk dirinya. 


Beberapa detail lain seperti bagaimana Edward bisa tahu Bela ada di mana ketika sedang diganggu sekumpulan preman saat sedang berbelanja gaun bersama Jessica dan Angela di Port Angeles juga dijelaskan di sini. 


Bahkan, tokoh jahat si preman yang mengganggu Bela (yang ternyata buronan karena melakukan pemerkosaan beberapa kali) tidak dibiarkan lepas oleh Edward. Secara diam-diam, Edward dan Carlisle membuat si preman tersebut pingsan dan dibuat ada di negara bagian lain di Amerika sehingga bisa segera ditangkap oleh petugas setempat. 


Ending Dilematik Edward dengan Kisah Cintanya pada Manusia


Di bagian ending, Edward disuguhkan dengan cobaan berupa Bela yang diburu oleh vampire haus darah bernama James. Di sini, dia terus menyalahkan dirinya karena menjadi penyebab semua kemalangan dalam kehidupan Bela. 


Meskipun ending novelnya sama saja dengan versi yang biasa, di sini diceritakan dengan detail betapa Edward sangat membenci James sampai ingin merobeknya berkali-kali di dalam pikirannya sendiri. 


Plus dan Minus Novel Midnight Sun


Sebenarnya saya nggak gitu ngefans sama kisah cinta lintas ras (ras vampire dan ras manusia) seperti ini. Akan tetapi saya akui bahwasannya kisah di dalam buku ternyata jauh lebih romantis dibandingkan kisah di dalam filmnya itu sendiri.


Emm, yang membuat buku ini lebih terasa romantis lagi adalah ternyata walaupun Edward Cullen sangat kalem dalam menghadapi cinta yang ada di dalam dirinya, tapi sebenarnya ada ombak dan kemelut badai dalam pikirannya sendiri ketika memutuskan untuk bisa memulai memberanikan diri untuk menyukai manusia. 


Kekurangan buku ini adalah kelebihannya itu sendiri. Kadang, kemelut di dalam pikiran Edward terasa begitu bertele-tele sehingga saya beberapa kali men-skip bagian yang cukup menjemukan. 


After all, kisah cinta bucin macam ini memang hanya enak jadi bahan konsumsi kisah fantasi saja, gak untuk dunia nyata. Yaaaaaa, saya mau cuci piring dulu lah.