"Pura-pura saja peduli, puji penampilannya, tanyakan keinginannya, basa-basi saja. Rugi sekali kalau tidak bisa berpura-pura."

curhatan insomnia

Hari ini sebenarnya aku sudah punya konsep artikel, yakni tentang review drama Korea The Art of Sarah. Akan tetapi, karena itu butuh konsep dan gak bisa langsung diposting (tulisan yang perlu detail) sedangkan aku buru-buru karena mau lipat baju, maka mau tidak mau aku mau menulis random malam ini.


Btw, tadi siang aku mengalami hal yang tidak mengenakkan. Aku potong rambut tapi ingin merubah model menjadi lebih pendek. Mbak tukang potong kadung kesal mungkin karena awalnya cuman potong tipis-tipis aja. Dia nyeletuk dengan suara keras, “Sudah dipotong, tahunya berubah model.” Ngeluh lah ceritanya. Ku jawab, silakan lanjutkan aja yang ada sekarang. Tapi kami jadi diam-diaman.


Berasa lagi di hubungan yang gak nyaman. Kalau ngikutin kata otak kayanya aku pengen ambil itu gunting ku potong sendiri rambutku sampai pendeknya sesuai dengan yang ku inginkan, terus ku keluar dari salon itu. Tapi, berhubung ku takut di videoin sama mbak tukang salon karena disangka gak waras, ku tahan aja. Ku main hp dari awal sampai akhir. Di akhir potong, dia bertanya, “Sudah cocok?” Ku jawab sudah dan aku langsung ikat rambut lalu pakai kerudung.


Kalau dipikir-pikir, manusia memang cerdas sih. Kami sama-sama gak ada mengeluarkan kata kasar, tapi rasanya saling paham, bahwa momen ini sudah gak enak banget. Kalau dia ngikutin kata otak, mungkin dia juga pengen jambak rambut orang menyebalkan yang minta ganti gaya di tengah jalan. Tapi, jelas gak dia lakukan, karena sudah pasti akan aku videokan. Satu hal yang pasti, tidak ada yang jadi korban dan pelaku hari ini. Alhamdulillah.


Aku rasa gestur dan intonasi kalimat adalah segalanya dalam sebuah komunikasi. Kita bisa berkata makasi, tapi pakai nada datar, semua orang akan tahu, itu bukan terima kasih yang sebenarnya. Kita bisa bilang suka, tapi tanpa usaha dan effort, kita semua tahu itu cuman basa-basi belaka (wkwk, ampun).


Makanya, kadang ketulusan itu harus dipaksakan. Palsukan saja kalau memang terpaksa, pada akhirnya kita akan benar-benar bisa merasa peduli dengan sebenar-benarnya. Pura-pura saja peduli, tanya kabarnya, puji anaknya. Mudah. Makanya, aku rasa profesi dalam bidang jasa sudah seharusnya pintar berpura-pura. Pura-pura saja peduli, puji penampilannya, tanyakan keinginannya, basa-basi saja. Rugi sekali kalau tidak bisa berpura-pura.    


Btw, tulisan ini sudah 350 kata, aku mau sudahi di sini saja karena mau lipat baju, besok sudah bukan tanggal merah lagi. Hiks. 


Baca juga: Enam Mahasiswa Pembohong dan Kerasnya Dunia Kerja