Ratih bergeming mendengarkan teman-temannya saling bercerita. Tomi berkata bahwa ibunya yang seorang koki selalu menyiapkan makanan spesial saat dirinya berulang tahun. Perayaan ulang tahun pertama, walaupun ia tidak ingat dan hanya mengetahui lewat cerita orangtuanya, dirayakan dengan makan bersama keluarga besar, mulai dari nenek, kakek, om, tante, sampai sepupu. Menu yang tersedia sangat lengkap, es buah, nasi goreng, ayam bakar, lalapan, sampai puding cokelat kesukaanya. 


Perayaan di tahun kedua juga sama, orangtuanya membuat makan bersama lengkap dengan acara barbeque seperti orang dalam film-film. Tempatnya juga spesial, yakni di pinggir pantai yang sejuk, debur ombak yang berlarian, dan daun kelapa yang berayun terkena angin. Tomi bermain air sampai puas, makan sampai kekenyangan, dan tertawa sampai tertidur karena terlalu lelah. Perayaan ulang tahun ketiga dan seterusnya dilakukan dengan meniup kue di TK dan PAUD. Untuk perayaan yang ketujuh tahun ini sepertinya spesial kata Tomi. “Kami sekeluarga berempat merayakannya sambil liburan di Bali.”


Irina yang juga tergabung di kelompok itu tiba-tiba menimbrung, “Kalau aku, ulang tahun dirayakan dengan pergi ke studio foto. Seminggu sebelumnya, aku dan ibu akan mempersiapkan baju yang sama lalu setelah semuanya siap ayah akan pulang dari tempat kerjanya untuk berfoto bersama.”


Ratih yang sedari tadi penasaran bertanya, “Papamu tidak tinggal bersamamu?”


“Ya, dari dulu Papa memang tinggal terpisah denganku. Ia tinggal bersama adik laki-lakiku yang lebih kecil dan mamanya.” Ratih mengangguk-anggukkan kepala tidak mengerti. “Lalu, bagaimana denganmu, Ratih?”


“Oh, aku tak tahu kapan tanggal lahirku. Tapi, mungkin hari ini aku akan bertanya pada ibu,” jawab Ratih yakin.


“Jadi, kau tidak pernah merayakan ulang tahun?” Tomi bertanya penasaran.


“Em, tidak pernah.”


Danti yang kebetulan ada di situ ikut menjawab, “Aku juga tidak pernah dirayakan, tapi setiap ulang tahun ibuku akan mencium dahiku sejumlah umur baruku. Berarti tahun ini aku akan dapat ciuman 7 kali.”


Ratih mengangguk-angguk paham. Ternyata ada juga cara seperti itu


Sepulang sekolah, Ratih langsung memberondong pertanyaan dengan cepat. Mulutnya komat-kamit saking banyaknya pertanyaan yang ingin dia ketahui. 


“Kapan aku ulang tahun, Ma?”


Senyap, tak ada jawaban.


“Kapan kita bisa makan bersama, Ma? Kalau tak bisa makan bersama karena Mama tak bisa masak, ke Bali juga gak apa-apa.”


Sunyi, tak ada jawaban.


“Bali ada di mana Ma?”


Hening, hanya ada suara angin dan aroma bunga.


“Ma, selamat ulang tahun untuk Mama. Akan aku cium Mama 100 kali.” Ratih mencium nisan kayu yang sudah rapuh berulang kali.